Now Playing Tracks

Ber - Hutang

Artikel Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia - KPMI (pengusaha-muslim@yahoogroups.com)

Pada acara kajian Ramadhan dan Klinik Bisnis barusan yang diadakan oleh KPMI korwil Surabaya, saya bertemu dengan seorang kawan lama, yang sudah sangat lama sekali tidak bertemu.

Setelah saling berbagi cerita sampai pada info ternyata kalau banyak dari teman2 Pengusaha yang pada berjatuhan, hidupnya dan hidup keluarganya hancur-hancuran dikarenakan berhutang.

Kenapa dengan berhutang?
Banyak dari teman2 yg memang modalnya didapat dari berhutang
yg ada bunga (riba) nya.

Setelah bisnisnya terkena kegagalan sedikit, karena memang arus dana nya dari hutang.

Luka dalam perusahaan bisnisnya semakin lama semakin besar, merembet kemana2.

Sampai benar2 ambruk tidak tersisa apa2 dari bisnisnya Sampai2 anaknya tidak bisa disekolahkan, karena memang bisnis sudah tidak bisa jalan,
dan tidak ada uang sama sekali untuk keluarga.

Ya memang cara itulah yang diajarkan kepada kami dahulu, ketika belajar
di sekolah bisnis.

Yang diajarkan dahulu adalah
Dalam bisnis, Wajib harus berhutang.
Agar ada kewajiban untuk membayar,
Agar ada “The Power of Kepepet.”
Agar ada Semangat dalam bisnis, tidak malas2an.

Kalau bisnisnya gagal, gimana ?
Ya harus tetep bayar, gimanapun caranya agar bisnis tetap berjalan, untuk bisa bayar hutang,
Yang selain hutang pokok nya + bunga dan + denda kalau telat.

Kalau semakin telat bayarnya, ya semakin besar bunga dan dendanya.

Jadi kesimpulannya, ya harus berjuang
agar bisnis bisa terus jalan, agar tetap bisa bayar “Kepepet” nya, yang dibuat2 nya sendiri.

Kalau ada alasan agar bisnis dengan modal yang lebih itu bisa lebih berkembang, biar ada Leverage (daya ungkit) katanya.

Memang karena itulah yang diajarkan oleh Mentor2 Bisnis kami dulu.

Mereka mengajarkan:
Kalau hutang jangan setengah-setengah. Harus Maksimal.
Kalau bisa tempo pelunasan pembayarannya yang paling lama,
kalau bisa sampai Dunia Kiamat.

Lah, apa bisnis itu bisa jauh berkembang kalau ada Modal yang besar?

Padahal Rosululloh bersabda:
“Sesungguhnya, tidak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna
(telah diberikan oleh Alloh seluruhnya) rezkinya (yang memang telah ditakdirkan untuknya)”.

[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (3239 dan 3241), Al Hakim (II/4), Al Baihaqi (V/264 dan 265), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (III/156-157)
dari jalur Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir]

Jadi misal kalau seorang manusia, ditakdirkan seumur hidupnya diberi rezeki oleh Allah sekian triliun.

Kalau rejekinya belum diberikan pada dia seluruhnya dalam hidup, meskipun cuman kurang seribu rupiah saja.

Ya dia tak akan meninggal. Dan juga dapat info, banyak dari teman2 Pengusaha yang udah tobat, insyaf, tapi setelah bisnisnya jatuh, hancur berkeping-keping.

Tapi ada juga yang tambah makin Menggila, tambah menjadi-jadi dalam bersentuhan dengan Bunga (Riba).

Bersyukurlah, buat teman-teman yang masih diberi oleh Alloh hidayah yang meninggalkan dan menjauhi segala macam Bunga (riba)

Meskipun dengan carayang sangat menyiksa di dunia.

Daripada ntar tersiksanya di akherat ?
Pilih mana?

Daripada dahulu, omzet “cuman” sekian Ratus Juta / bulan.
Tapi karena dengan alasan membuat
“The Power of Kepepet” yang dibuat2 sendiri. Akhirnya ya ambruk juga bisnis nya.

Lebih baik sekarang, meski omzet cuman beberapa juta / bulan. Tapi masih bisa ikut taklim, belajar Qur’an dan Sunnah

Agar lebih faham agama, lebih faham cara untuk menggapai Surga nya Allah. Memperbagus ibadah wajib, dan memperbanyak ibadah Sunnah.

Insya Allah juga akan bisa besar kok bisnisnya. Tanpa menyentuh hal2 yang berhubungan dengan bunga (riba)

Karena itu, rejeki yang udah ditetapkan oleh Alloh bagi setiap manusia itu beda2 untuk setiap orangnya.

Setiap manusia tidak akan meninggal, kecuali bila rejeki yg telah ditakdirkan Allah untuk nya belum diberikan seluruhnya.

Jadi tergantung kita, rejeki yang diturunkan itu, didapat dari cara yang benar atau yang menyentuh hal yang tidak benar. Rejeki itu tidak akan lari, kalau memang sudah digariskan.

Kesimpulannya adalah:
Memang.. Hidup itu adalah pilihan..
Dan menjalankan bisnis dengan cara apapun itu juga adalah pilihan.

Tapi perlu di ingat, harus siap menanggung segala konsekwensi atas tindakan yg telah dibuat.

Selesai
-ino ibnu permadi-
@inohambaAlloh
@MieAyamiNo

KPMI korwil Surabaya

To Tumblr, Love Pixel Union